Rabu, 05 Oktober 2016

AKTIFITAS BONGKAR MUAT


Aktivitas Bongkar Muat Hasil Tangkapan

Pembongkaran ikan menurut Afandy (1998), adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh para ABK setelah kapal mendarat di tempat pendaratan ikan di luar Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan Pendaratan Ikan masing-masing, dimana para ABK mengeluarkan ikan dari dalam palkah kapal untuk kemudian disortir. Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya pembongkaran ikan adalah jumlah hasil tangkapan, jumlah buruh, jenis kapal, alat tangkap dan cara membongkar.

Sistem pendaratan ikan meliputi proses pembongkaran ikan, penyortiran serta pengankutan ikan ke TPI (Masriah, 1997), sedangkan proses pembongkaran ikan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setelah kapal tertambat di dermaga pelabuhan dan setelah selesai dalam pengurusan perijinan bongkar, kapal menunggu sesuai nomor urut bongkar, kemudian melakukan pembongkaran (Febrisma 1997).
Menurut Moeljanto (1982), langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembongkaran pada pendaratan ikan adalah sebagai berikut:
1)      Bongkar dengan hati-hati dan sedapat mungkin jangan memakai sekop atau garpu, untuk menghindari luka/memar pada ikan;
2)     Pisahkan es dari ikan, sehingga memudahkan penimbangannya. Setelah ditimbang, ikan harus segera diberi es kembali;
3)     Wadah (container), sebaiknya dibuat dari bahan-bahan yang mudah dibersihkan seperti alumunium; plastik keras tetapi tidak mudah pecah; atau peti kayu yang ringan, kuat dan mudah dibersihkan;
4)     Hindari ikan-ikan tersebut dari sinar matahari langsung dan selalu menambahkan es pada saat pelelangan, pengangkutan atau pengolahan.







Aktivitas Penjualan Ikan

Kegiatan ekonomi utama masyarakat pesisir biasanya adalah menangkap ikan. Para nelayan pergi menangkap ikan di daerah dekat pantai. Mereka menggunakan sampan dan jaring sebagai alat utama. Hasil tangkapan mereka biasanya berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya. Hasil tangkapan biasanya dijual dan sebagian dibawa pulang untuk dikonsumsi. Kegiatan yang dilakukan nelayan termasuk kegiatan produksi, nelayan menghasilkan ikan dan hewan laut lainnya. Penjualan biasanya dilakukan di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern. Ikan-ikan yang dijual didapatkan dari hasil pelelangan atau pembelian dari bakul-bakul nelayan di TPI.



Aktivitas Pemasaran dan Pengangkutan Ikan


Para nelayan menjual ikan hasil tangkapannya di tempat pelelangan ikan. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan tempat para penjual (nelayan) dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan melalui pelelangan dimana proses penjualan ikan dilakukan di hadapan umum dengan cara penawaran bertingkat. Lelang adalah proses membeli dan menjual barang dengan cara menawarkan kepada penawar, dan kemudian menjual barang kepada penawar harga tertinggi. Penjualan ikan dengan sistem lelang tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan serta pada akhirnya dapat memacu dan menunjang perkembangan kegiatan penangkapan ikan di laut. Namun penjualan dengan cara lelang dianggap tidak efektif sehingga nelayan lebih sering menggunakan metode jual berdasarkan bakul ikan. Bakul-bakul yang berisi ikan tersebut diletakkan dan terjadi aktivitas tawar-menawar antara nelayan dan pembeli.
          Pengangkutan berarti memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan media atau sarana angkut yang dapat mempermudah pemindahan ke tempat lain. Wadah angkut ikan ke TPI bermacam-macam, ada yang menggunakan alat bantu berupa peti, kantong-kantong yang terbuat dari jaring, sekop atau ganco (Zaitsev et al, 1969 vide Ilyas, 1983).
1) Sarana angkut:

      Gerobak dorong
Digunakan untuk mengangkut hasil tangkapan dari dermaga ke daerah sekitar Palabuhanratu.
2)Wadah angkut
      Tong-tong plastik
Alat ini dilengkapi dengan es dan diangkut dengan kendaraan pickup untuk daerah luar Palabuhanratu

      Keranjang
Digunakan untuk mengangkut hasil tangkapan yang akan diolah
      Trays (keranjang plastik atau blong)

Hal yang harus diperhatikan dalam mengangkut ikan adalah ikan harus tetap berada pada suhu sekitar 0o C selama pengangkutan sampai tiba di tempat tujuan, ikan tidak dicemari bakteri, kotoran dan bau yang berasal dari luar maupun dari dalam wadah pengangkut yang digunakan, ikan tidak mengalami perubahan organoleptik (rupa, bau, cita rasa dan tekstur) yang menyolok setiba di tempat yang dituju (Ilyas, 1983). Idealnya, pengangkutan ikan segar harus dilakukan dengan sarana yang higienis dan dapat mempertahankan suhu rendah ikan (Murniati dan Sunarman, 2000 vide Kutipah, 2002).






1 komentar: